|
EDITORIUM |
|
Perihal Keris dan Sebilah Sajak |
|
Sebilah keris buatan para perajin di kaki bukit Imogiri, Yogyakarta, dapat diselesaikan dalam hitungan hari, lengkap dengan sarung dan aksesorisnya. Keris semacam ini biasa dijual sebagai suvenir atau dipakai sebagai pelengkap pakaian adat. Harganya murah dan dapat diproduksi secara masal asalkan tidak diharapkan memiliki kualitas standar sebuah keris, apalagi memiliki aura magis sebagaimana layaknya sebuah benda pusaka. Sebilah keris buatan empu (di kaki bukit Imogiri itu juga ada seorang empu keris sungguhan), lain lagi ceritanya. Besi bahan yang berkualitas baik haruslah dilebur langsung dari bijih, meski sekarang banyak pula empu yang terpaksa memakai besi bekas rel kereta atau besi plat. Besi itu dibuat semacam pita yang dilipat-lipat beberapa lapis, lalu dipipihkan lagi menjadi satu lapis pita, dilipat-lipat lagi, dipipihkan lagi, demikian seterusnya puluhan hingga ratusan kali sehingga diperoleh kepejalan bahan yang diinginkan. Dari hasil lipatan-lipatan itu, tak jarang dengan sisipan bahan lain, seperti batu meteor atau jenis logam lain, akan diperoleh garis-garis tekstur yang akan muncul menegas setelah proses finishing bilah tersebut. Jangan dilupakan juga proses persiapan sang empu dalam menyiapkan dirinya mengerjakan tugas besar yang bisa makan waktu berbulan-bulan itu. Sang empu, selain menyiapkan perangkat ritual, juga menyiapkan mentalnya dengan laku spiritual yang khusus. Dari sinilah awam meyakini, keris yang dihasilkan nanti akan memiliki “kekuatan dalam” yang menebarkan perbawa, aura kekuatan, tertentu. Tentu saja, dari segi estetika semata, akan jauh kelihatan beda kualitasnya dengan keris suvenir kodian. Jika keris itu adalah sebuah sajak, pastilah dapat dirasakan mana sajak buatan perajin yang sekedar memenuhi target produksi dan mana sajak buatan empu yang, demi menjaga kualitas, harus memenuhi kaidah-kaidah pakem yang tidak dapat ditawar-tawar. Tentu saja menempa sebilah sajak tidak harus menghabiskan waktu selama waktu menempa sebilah keris, walaupun beberapa penyair serius ada juga yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan sebuah sajak. Yang lebih penting adalah etos kerja keempuan itu. Produktivitas, di sisi yang lain, pun tidak diharamkan. Nyatanya banyak juga penyair yang begitu produktif sembari tetap menjaga etos keempuannya. Memiliki etos keempuan sekaligus produktivitas semacam ini adalah sebuah kemewahan yang wajib disyukuri, tetapi jangan sampai tuntutan produktivitas itu mengurbankan etos keempuan itu. Seorang pembuat keris, sebelum layak disebut empu, harus menjalani latihan-latihan yang berat, menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Ia harus menguasai metalurgi bahan sama baiknya dengan ia menguasai palu dan tungku untuk memasak keris. Tetapi yang lebih berat adalah ilmu mengolah rasa, olah batin, agar keris masterpiece buatannya tidak terpolusi oleh ke-aku-annya, tidak dikotori oleh kekuatan-kekuatan rendah, dan yang paling penting agar keris itu bukan menjadi senjata pembunuh melainkan menjadi perlambang ketajaman kearifan penyandangnya dalam misi “memayu hayuning bawana”, memuliakan kehidupan di muka bumi. Dengan demikian, sebilah keris itu akan “hidup”, sebab sang empu telah menitiskan ruh kreatifnya ke dalam wadag sang keris. Demikian pula sebaiknya seorang penyair dengan sajak-sajaknya. [PUISINET/TSP] |
|
|
Sajak-sajak Kinu Trihatmojo |
PUISI.NET lama terdiam karena banyak alasan. Tetapi kami tak berdiam, kami masih mengikuti sajak-sajak yang berruah di internet. Ada beberapa blog pribadi berisi puisi yang kami incar, dan kali ini kami coba tampilkan hasil incaran itu untuk mencairkan kebekuan PUISI.NET. Kami memilih sajak-sajak Kinu Trihatmojo (http://therain.wordpress.com) berjudul PETANG DI TAMAN, PUSARAN KENANG, SAJAK DINGIN, PIKNIK KE LANGIT, DI SEBUAH JANUARI, SAJAK SATU, SAJAK DUA, SAJAK TIGA,dan SAJAK EMPAT. Selamat menikmati.
|
|
Read more...
|
|
|
Hudan Nur, penyair perempuan dan aktivis sastra Kalimantan Selatan, mengalami musibah kecelakaan ditabrak lari truk. Sudah 4 hari menjalani perawatan intensif di RS Banjarmasin. Kondisinya sangat memprihatinkan; tulang punggung, rahim dan rusuk patah. Mohon doa kawan-kawan sastrawan di tanah air untuk keselamatan dan kepulihan Hudan. Bila ada kawan-kawan yang ingin menyumbang dana, kirim ke rekening 0065889174 atas nama Hudan Nur BNI Cabang Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. |
|
Lama tidak memuat sajak-sajak baru, kini PUISINET menampilkan sajak-sajak Maria Ingrid. Selamat menikmati Requiem, Kunjungan, Gumam, Hyang, dan Pernah berikut ini. |
|
Read more...
|
|
|
Ruang Istirah dalam Sajak Inez Dikara |
Kita banyak menemukan penyair yang lihai bersajak pendek, namun sering kali terjungkal dalam guratan sajak-sajak panjang. Sebaliknya pun begitu.
Menulis sebuah sajak pendek lebih mudah ketimbang membuat yang panjang, inilah kesalahan yang telah lama kaprah dalam benak masyarakat awam. Sajak pendek bagaimanapun memiliki sisi-sisi yang tak dapat diabaikan. Menuliskannya tak berarti lepas dari bahaya. Salah-salah, penyair dapat terjebak dalam kedangkalan berbahasa. Secara gamblang saya berpendapat, kekuatan sajak panjang ada pada narasi, sedang kekuatan sajak pendek terletak dalam susunan kontemplasi. Sekali lagi, kalimat yang baru saja saya sampaikan tadi adalah sebuah pendapat yang belum layak dijadikan patokan. |
|
Read more...
|
|
|
Membaca Karna, Membidik Keabadian |
|
Karna, Ksatria di Jalan Panah Urip Herdiman Kambali Cetakan Pertama – Jakarta PT Citranusa Surya Prima, November 2007 xli, 62 hlm.; 12 x 19,5 cm ISBN (13) 978-979-3785-37-0 ISBN (10) 979-3785-37-3 Buku mungil ini saya terima dalam kondisi istimewa, disampaikan oleh kurir istimewa, di tempat istimewa. Terus terang, saya agak berdebar membuka sampul buku ini sambil terbayang buku UHK yang terdahulu Meditasi Sepanjang Zaman di Borobudur (Penerbit UHK, Depok, 2005). Saya berharap-harap cemas sembari mengingat-ingat karya adaptasi yang saya nikmati betul, Centhini, yang digarap oleh seorang jurnalis asal Perancis, Elizabeth D. Inandiak berdasarkan kitab Serat Centhini yang aslinya terdiri dari pupuh-pupuh (bait) syair tembang macapat dalam bahasa Jawa. Inandiak menerjemahkan dan memprosakan bentuk puisi Jawa tersebut ke dalam bahasa Perancis—Les Chants de l'île à dormir debut – le Livre de Centhini—yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk disajikan kepada pembaca Indonesia. Dalam kerja penyaduran salah satu kitab penting dalam kesusastraan Jawa tersebut, Inandiak tak sungkan menyelipkan teks-teks dari berbagai sumber acuan yang lain, mulai dari teks kitab suci Quran, syair Jalaluddin Rumi, hingga cuplikan puisi Victor Hugo guna memperoleh efek sastrawi yang diinginkannya. Prosaisasi 'kitab puisi' Serat Centhini pun lalu menghasilkan sebuah roman Centhini yang encer, mengalir, dengan tetap mempertahankan kadar puisi yang terselip dalam larik-larik dialog maupun narasinya. Artinya, ada penyegaran bentuk maupun isi—dengan mempertahankan jiwa karya sumbernya—sehingga karya adaptasi tersebut memang bisa beradaptasi dengan sidang pembaca yang lebih luas.
|
|
Read more...
|
|
|
Teks Puisi, Teks Kehidupan |
|
Umbu Landu Paranggi, mantan Presiden Malioboro yang kini menetap di Bali, yang hampir seluruh hidupnya dibaktikan untuk puisi, pernah berujar: kehidupan adalah puisi dan puisi adalah kehidupan itu sendiri. Saya rasa Umbu benar untuk hal itu. Begitu rupa ia mencintai puisi. Begitu dalam pula puisi mencintainya. Umbu adalah puisi itu sendiri, ia adalah teks jua. |
|
Read more...
|
|
|
INDRIAN KOTO BACA PUISI DI LIVE POETS SOCIETY |
|
Mengundang Anda ke acara LIVE POETS SOCIETY dengan penyair tamu Indrian Koto di Kedai Kebun, Jl. Tirtodipuran 3 Yogyakarta, Minggu 11 November 2007 pukul 19.00 WIB. Ingin membaca? Silakan bawa sajak-sajak Anda, siapa saja bebas membaca! |
|
|
8 PENYAIR MUDA BACA KARYA |
|
Jumat, 09 November dan Sabtu 10 November 2007 pukul 20:00 WIB, Teater Utan Kayu (TUK), Jl. Utan Kayu No. 68H Jakarta.
Banyak penyair baru bermunculan dalam khazanah sastra Indonesia, dengan berbagai corak pengucapan dan tema. Kita dapat menyimak kehadiran karya mereka di berbagai media massa, merasakan gairah, kegagapan maupun kefasihan mereka, pun tak jarang menikmati kesegaran yang mereka tawarkan. Dan tak sedikit di antara mereka yang telah memasuki tingkat kematangan. Bulan ini Teater Utan Kayu mengundang beberapa nama yang barangkali bisa dibilang termasuk gelombang baru dalam kepenyairan Indonesia untuk membacakan karya-karya mereka: Hasan Aspahani (Batam), Inggit Putria Marga dan Lupita Lukman (Lampung), Fadjroel Rachman dan Binhad Nurrohmat (Jakarta), Dina Oktaviani (Yogyakarta), S. Yoga (Nganjuk), dan Pranita Dewi (Bali). Kami mengundang anda untuk menyimak dan menikmat bersama penampilan mereka.
http://www.utankayu.org/in/index.cfm?action=detail&cat=event&id=121 |
|
|
Dalam Dekapan Takdir Sunyi |

Impian Usai (Kumpulan Sajak)
Pengarang : Wayan Sunarta Penerbit : Kubu Sastra, Denpasar, Agustus 2007 Tebal : 131 halaman INILAH buku penting seorang penyair dari Bali bernama Wayan Sunarta. Buku ini berisi 99 sajak dari rentang kepenyairannya selama lima belas tahun. Wayan membagi lima belas tahun itu dalam tiga penggal. Penggal pertama dari tahun 1992-1996. Penggal kedua 1997-2001. Dan penggal terakhir 2002-2006. Adakah yang berubah dalam periode lima tahunan itu? Ataukah ini sekedar pembagian untuk kemudahan saja? Mari kita telusuri. |
|
Read more...
|
|
|
Penyair dan Sajak yang Cengengesan |

Alangkah Tolol Patung Ini (Kumpulan Sajak) Pengarang : Faisal Kamandobat Penerbit : Olongia, Yogyakarta, Agustus 2007 Tebal : 134 halaman
Faisal Kamandobat adalah penyair yang suka cengengesan. Suka tertawa untuk hal-hal yang mungkin kurang alasan untuk ditanggapi dengan tertawa. Di panggung, saat baca puisi pun dia cengengesan. Dia tertawa-tawa saat membaca sajaknya. Sepertinya dia merasa ada yang lucu pada sajaknya itu. Saya melihat dia tampil di Pentas 30 Penyair Indonesia di ajang FKY Yogyakarta, dan saya tak menangkap kelucuan sajaknya. Penonton tertawa karena melihat dia tertawa, bukan karena kelucuan sajaknya.
|
|
Read more...
|
|
| | << Start < Previous 1 2 3 4 5 Next > End >>
|
+ ++ +++
________________ KEMBALI KE ATAS
|
|